Zhen Huan bukan hanya pemilik Paviliun Api Emas, tetapi juga Paviliun Bulan Perak. Ia dikenal luas memiliki jaringan bisnis yang tersebar di berbagai kota besar. Di setiap kota, Zhen Huan akan mendirikan Paviliun Api Emas dan Paviliun Bulan Perak, menciptakan pengaruh yang kuat dalam dunia perdagangan. Selain bergerak dibidang jasa penginapan dan makanan, bisnis yang di dirikan Zhen Huan sebenarnya bergerak di bidang informasi. Secara diam-diam mereka mengumpulkan berbagai informasi.

Lynx dan Ling Mei berhenti beberapa langkah di hadapan Zhen Huan yang duduk dengan santai.

"Aku senang kalian bisa datang," ucap Zhen Huan sambil menuangkan teh ke beberapa cangkir didepannya dengan gerakan yang tenang. "Silakan duduk."

Keduanya mengambil tempat duduk tanpa banyak bicara. Ling Mei tetap menjaga ekspresi dinginnya, sementara Lynx menanti Zhen Huan untuk memulai percakapan.

"Minumlah, teh ini rasanya sangat nikmat dan juga dapat bermanfaat buat kultivator seperti kita." Kata Zhen Huan sambil mengangkat tangannya memberi tanda untuk minum.

Zhen Huan lalu mengangkat pandangannya, menatap Lynx dengan senyum samar yang penuh makna. "Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu, Tuan Xiao Lin. Dan jika tidak salah, bukankah ini Nona Xiao Ling dari Sekte Api Langit?"

Ling Mei, yang sedang memegang cangkir tehnya, tiba-tiba berhenti. Ia menoleh tajam, alisnya berkerut. "Xiao Lin?"

Zhen Huan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ling Mei, lalu tatapannya tertuju pada Lynx. "Ya. Bukankah nama Anda Xiao Lin dari Desa Lianhua? Dan Anda adalah suami dari Nyonya Yun Qing?"

Cangkir teh yang semula dipegang Ling Mei untuk diminumnya, tiba-tiba diletakkannya kembali dengan perlahan. Tangannya sedikit bergetar, dan ia menatap Lynx dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Kau sudah menikah? Dengan Yun Qing?" tanyanya dengan nada datar, meski ada sedikit tekanan dalam suaranya.

Lynx menghela napas pelan, merasakan ketegangan yang menyelimuti mereka. "Aku bisa menjelaskannya," ujarnya, berusaha menenangkan situasi.

"Tidak perlu," potong Ling Mei, suaranya tetap dingin dan tegas. "Itu bukan urusanku."

Zhen Huan melirik keduanya, menyadari ada sesuatu yang tak beres di antara mereka. Perasaan bersalah menyergapnya. "Apakah aku salah berucap? Bukankah aku melihat pemuda ini bersama istrinya dan juga putri walikota serta wanita ini di pasar? Aku menduga mereka sudah berteman akrab dan tahu jika Xiao Lin dan Yun Qing adalah suami istri," batin Zhen Huan, kebingungan merayapi pikirannya.

Ia ingin meminta maaf, tetapi Zhen Huan tahu ia telah salah langkah, dan ia tidak ingin memperkeruh suasana dan salah bicara. "Hmm... Aku memanggil kalian ke sini bukan hanya untuk bernostalgia tentang Desa Lianhua," katanya, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan nada yang lebih serius.

Ia kemudian mengangkat tangannya, dan seorang pelayan mendekat membawa kotak kayu berukir. Dengan hati-hati, pelayan itu meletakkan kotak di atas meja dan membukanya, memperlihatkan lima kristal roh langka berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Lynx mengangkat alis. "Apa ini?"

"Kristal roh langka yang kalian tinggalkan di pasar judi batu," jawab Zhen Huan santai. "Bukankah tadi sore kamu dan Huo Tao bertaruh? Aku kebetulan berada disana juga dan melihat kalian. Aku segera mengenalimu."

Zhen Huan lalu melanjutkan ceritanya,"Saat kamu taruhan dengan Huo Tao, kalian berdua bersama-sama memilih lima batu roh. Waktu itu aku berpikir, kamu pasti akan kalah, karena aku sangat mengenal watak Huo Tao. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu untuk menang."

Zhen Huan berhenti sejenak dan meminum kembali tehnya. "Awalnya, aku merasa kamu sudah menyerah sehingga memilih sembarangan batu roh, ditambah lagi setelah batu-batu yang dipilih Huo Tao dibuka dan semuanya menghasilkan kristal roh biasa dengan ukuran yang besar, aku melihatmu pergi. Sehingga kami semua berpikir, kamu sudah merasa kalah."

Zhen Huan berhenti sejenak untuk membaca ekspresi Xiao Ling. Dia ingin melihat bagaimana responnya terhadap cerita tersebut. "Dia tetap bersikap tenang, kemungkinan dari awal dia sudah tahu dirinya pasti menang." batinnya.

Melihat Lynx diam, Zhen Huan melanjutkan ceritanya."Setelah kau pergi, Huo Tao mendadak segera pergi juga meninggalkan semua batu-batu tersebut. Namun para penduduk penasaran, meski mereka sudah menebak kamu kalah, tapi mereka ingin membuktikan langsung. Bahkan Sun Fang, memanasi para penonton untuk meminta tukang batu tetap membuka batu-batu milikmu."

Ling Mei yang awalnya merasa tidak peduli dengan cerita tersebut, menjadi penasaran. Dia berusaha mengalihkan rasa tidak nyaman yang dirasakannya dengan menyimak mengenai hasil judi batu yang tidak dia ketahui hasilnya. "Mungkinkah?" katanya pelan, sambil memandang kristal-kristal roh didepannya.

Zhen Huan tersenyum sambil tetap memandang ekpresi Lynx yang tetap biasa."Dan hasilnya sungguh luar biasa. Ternyata semuanya mengandung kristal roh dan bukan kristal roh biasa melainkan langka dengan elemen berbeda. Pemenangnya adalah kau, tetapi kau malah menghilang bersama rombonganmu."

Ling Mei menoleh ke arah Lynx, kali ini dengan tatapan lebih tajam. "Bagaimana mungkin kau bisa memilih dengan tepat?"

Lynx tersenyum kecil. "Keberuntungan."

Zhen Huan terkekeh. "Keberuntungan yang terlalu luar biasa untuk disebut kebetulan, Xiao Lin."

Lynx menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesuatu yang sejak lama menjadi kebiasaannya. "Maaf tuan Zhen, sebenarnya namaku Xiao Ling, bukan Xiao Lin. Karena suatu alasan, Yun Qing salah menyebutnya."

"Padahal aku merubah nama agar tidak ada yang mengetahui hubunganku dengan Jelita di desa Lianhua. Kenapa aku dengan bodohnya melupakan Zhen Huan. Malah dengan santainya menemui dia bersama Ling Mei.... Bodoh...bodoh... Bodoh...." Lynx memaki dirinya sendiri didalam hati dengan kesal. Dia ingin menjelaskan hubungan dia dengan Jelita, tetapi pasti akan menimbulkan masalah baru, seandainya Zhen Huan mengatakan mereka tinggal serumah selama tiga tahun. Siapa yang akan percaya mereka tidak melakukan apa-apa selama tiga tahun.

"Nasib...Nasib... Apes banget...."  Batin Lynx sambil mengelus dada.

Zhen Huan tersenyum, "Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu dengan Xiao Ling mulai sekarang."

"Lalu bagaimana kristal ini ada bersama anda tuan Zhen?" Tanya Ling Mei.

"Di kota ini, meskipun aku bukan orang besar, tapi banyak penduduk yang pernah makan disini mengenalku. Saat aku bilang mengenal kalian, mereka tidak keberatan aku mengambil untuk diserahkan kepadamu. Ambillah ini milikmu." Kata Zhen Huan sambil tetap tersenyum.

Melihat sikap Zhen Huan yang santai, Lynx tanpa sungkan segera menawarkan ke Ling Mei."Apakah ada kristal ini yang menarik bagimu? silahkan ambil. Atau kau bisa mengambil semuanya. Ini kuberikan semua untukmu."

Namun Ling Mei hanya mendengus dan memalingkan wajahnya, tidak ingin memandang Lynx.

Zhen Huan kemudian berusaha menghilangkan kecanggungan yang terjadi. Ia menyesap tehnya sebentar sebelum melanjutkan, "Aku tertarik dengan kemampuanmu. Mungkin suatu saat aku akan meminta bantuanmu. Ingatlah, Paviliun Bulan Perak dan Paviliun Api Emas ada di banyak kota. Jika kau membutuhkan sesuatu, datanglah ke tempatku."

Lynx mengangguk. "Aku akan mengingatnya."

Setelah percakapan mereka berjalan lebih santai, Lynx tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan.

"Tuan Zhen Huan, apakah kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam jumlah ribuan, tetapi tidak mengetahui apa pun tentang dunia ini?"

Ling Mei menoleh ke arahnya dengan bingung, sementara Zhen Huan yang awalnya santai tiba-tiba berubah ekspresi.

Udara di dalam ruangan terasa lebih berat.

"Dari mana kau tahu tentang itu?" tanyanya dengan suara rendah.

Lynx tidak menyangka reaksinya akan seperti ini. Ia hanya bertanya tanpa terlalu berharap jawaban, tetapi ternyata Zhen Huan benar-benar mengetahui sesuatu.

Zhen Huan menatapnya dengan tajam. "Itu adalah sesuatu yang sangat jarang diketahui orang. Jika kau tahu tentangnya, maka kau pasti punya alasan yang sangat kuat."

Lynx merasakan detak jantungnya sedikit meningkat. Ini adalah pertama kalinya ia menemukan seseorang yang mengetahui tentang fenomena itu.

Namun, sebelum percakapan bisa berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar di luar ruangan.

Pintu terbuka dengan kasar, dan seorang pria dengan tubuh penuh luka masuk dengan napas terengah-engah.

"Tuan… keadaan darurat!" serunya.

